IHSG melonjak 7,57 persen ke level 5.746,65 pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, mencatat penguatan harian terbesar sejak 26 Maret 2020, didorong keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen dan rencana buyback saham BUMN.
IHSG Cetak Rebound Terbesar dalam 6 Tahun
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 404,51 poin atau 7,57 persen ke posisi 5.746,65. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan turut melonjak 42,24 poin atau 8,01 persen ke posisi 569,32. Penguatan ini terjadi setelah IHSG melemah 4,57 persen ke level 5.342 pada perdagangan sehari sebelumnya.
Kenaikan harian IHSG tersebut menjadi yang terbesar sejak 26 Maret 2020, ketika pasar modal mencatat lonjakan hingga 10,2 persen dalam satu hari. Sebanyak 678 saham mengalami kenaikan harga, sementara hanya 89 saham yang melemah dan 48 saham tidak bergerak. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2,71 juta kali transaksi dengan nilai Rp27,93 triliun.
Tiga Katalis Utama Penguatan IHSG
Analis Riset Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajnawi, mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong IHSG melesat. Pertama, rencana buyback saham big caps anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mendapat sinyal diperbolehkan tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Pembahasan dan rencana buyback saham big caps seperti anggota Himbara menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar hari ini.” - Arjun Ajnawi, Analis Riset Infovesta Kapital Advisori, 9 Juni 2026
Katalis kedua adalah keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan, menjadi 5,50 persen. Kenaikan ini diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen. Ketiga, kepastian pemerintah bahwa tidak ada mekanisme gross split dalam skema ekspor sehingga kekhawatiran gangguan arus kas eksportir mereda.
OJK: Berbagai Langkah Otoritas Mendapat Respons Positif Pasar
“Kita melihat ini sama-sama supaya market kita bisa kembali rebound. Kita kemarin juga cukup dalam turunnya, tapi hari ini alhamdulillah rebound.” - Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK, 9 Juni 2026
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengonfirmasi dampak positif kenaikan BI Rate. Nilai tukar rupiah ditutup menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS. Penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Investment Portfolio Strategy Department Head Bank Sinarmas, Ismail Muharam, menilai kenaikan suku bunga menjadi jangkar (anchor) bagi rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia. Ia memperkirakan tekanan dari arus keluar dana asing mulai mereda, setelah sebelumnya sempat terjadi outflow asing sekitar Rp8,5 triliun dalam satu hari pada 29 Mei lalu akibat penyesuaian indeks MSCI.
Bursa saham regional Asia sebagian besar juga mencatat penguatan pada penutupan perdagangan hari yang sama. Indeks Nikkei menguat 1,92 persen ke 65.251, indeks Shanghai menguat 1,28 persen ke 4.010, dan Straits Times menguat 1,20 persen ke 5.023. Hanya Hang Seng yang melemah 0,37 persen ke posisi 24.565.
Baca juga: Ajeng Febria Tampil Menawan pada lagu “Siji Di Ping Selawe”, Official Music Videonya Banjir Penonton








