Parlemen Iran menyetujui garis besar rencana aksi strategis untuk pengelolaan Selat Hormuz, yang di antaranya melarang pelintasan kapal milik negara-negara yang dianggap bermusuhan.
Isi Rencana Strategis Pengelolaan Selat Hormuz
Juru bicara Komite Parlemen Urusan Dewan Iran, Valiullah Bayati, menyampaikan prinsip umum rencana tersebut telah disepakati. Keterangan itu disampaikan kepada kantor berita Iran, Tasnim. Berita internasional lain di kanal Internasional BeritaEnam.
“Rencana aksi strategis untuk menjamin keamanan dan kelancaran Selat Hormuz serta Teluk Persia telah ditinjau Komisi Dewan.” — Valiullah Bayati, juru bicara Komite Parlemen Urusan Dewan Iran
Salah satu resolusi dalam rencana itu melarang pelintasan kapal dan peralatan milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara yang dikategorikan bermusuhan. Larangan diberlakukan melalui jalur perairan tersebut.
Bayati menyebut alasan larangan berkaitan dengan penggunaan jalur tersebut untuk tindakan yang dinilai bermusuhan terhadap Iran. Ia menyatakan negara-negara itu melakukan tindakan yang dinilai tidak adil terhadap rakyat Iran.
Rancangan Undang-Undang di Parlemen
Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran sebelumnya menyetujui rancangan undang-undang terkait. Aturan tersebut bertujuan menjamin keamanan dan pembangunan berkelanjutan di kawasan perairan itu.
Ketua komisi tersebut, Ibrahim Azizi, menyebut rancangan itu sebagai salah satu undang-undang paling penting sejak nasionalisasi industri minyak Iran. Menurut kantor berita IRNA, aturan itu melarang kapal militer dan komersial negara musuh melintas tanpa persetujuan Teheran.
Rancangan tersebut juga melarang kapal mengangkut muatan, baik sipil maupun militer, yang berkaitan dengan Israel. Ketentuan itu dilaporkan sejumlah kantor berita Iran yang mengutip isi rancangan.
Selain larangan melintas, rancangan aturan memuat sanksi finansial bagi kapal asing lainnya. Kapal yang melanggar ketentuan disebut terancam denda hingga 20 persen dari nilai muatan yang diangkut.
Dampak pada Rantai Pasokan Energi Global
Situasi di kawasan tersebut masih tegang sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari 2026. Hingga kini, Teheran dan Washington belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konfrontasi.
Penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung terus mengganggu rantai pasokan energi global. Jalur ini merupakan salah satu perlintasan paling vital bagi distribusi minyak mentah dan gas alam dunia. Laporan kawasan tersedia di Reuters Middle East.
Organisasi Maritim Internasional memperingatkan para pelaut yang terjebak di kapal-kapal di jalur tersebut menghadapi tekanan berat terhadap kesehatan mental mereka. Kepala IMO, Arsenio Dominguez, menyebut para pelaut merasa terlupakan.
Reaksi Amerika Serikat dan Kondisi Pelayaran
Di sisi lain, Iran menyatakan telah mencapai kerangka kesepakatan awal dengan Oman terkait pengaturan jalur pelayaran. Menurut media pemerintah Iran, kapal akan masuk melalui koridor utara dan keluar melalui koridor selatan.
Amerika Serikat menyatakan Selat Hormuz merupakan jalur internasional yang bebas bea. Washington menolak klaim Iran mengenai kewenangan pemungutan biaya bagi kapal yang melintas.
“Selat Hormuz merupakan jalur internasional yang bebas bea, sehingga klaim pemungutan biaya oleh Iran ditolak Washington.” — Pernyataan otoritas maritim Amerika Serikat
Data pelacakan pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum konflik meningkat, jalur ini biasanya dilalui lebih dari seratus kapal setiap hari.
Krisis dan Jalur Alternatif
Sejumlah pelaku industri pelayaran masih menahan diri karena pertimbangan risiko keamanan. Kondisi ranjau laut di perairan tersebut juga menjadi perhatian operator kapal.
Krisis di Selat Hormuz turut memicu kelangkaan bahan bakar dan pupuk di sejumlah negara. Dampaknya dirasakan pada rantai pasokan energi dan komoditas global.
Laporan sejumlah media menyebut Amerika Serikat, Iran, dan Oman sempat mendekati kesepakatan sementara terkait pemulihan aktivitas pelayaran. Namun, kesepakatan final belum tercapai hingga kini.
Upaya Mediasi Berlanjut
Sejumlah pihak juga mulai melirik jalur pelayaran alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada perairan tersebut. Opsi tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan peran jalur utama.
Sejumlah negara mediator, termasuk Turki dan negara-negara Teluk, mendorong tercapainya kesepakatan sementara. Upaya tersebut ditujukan untuk meredam konflik yang masih berlangsung.
Ketegangan seputar Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pelaku pasar energi global. Hingga berita ini disusun, upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur tersebut belum menemukan titik temu.







