Karhutla Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menewaskan empat orang pada Kamis, 15 Oktober 2026. Tiga korban meninggal di lokasi, sementara satu petugas meninggal saat dirawat.
Kronologi Karhutla Bromo di Kawasan Mentigen
Laporan titik api muncul pada Kamis pagi di kawasan Mentigen, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, menurut Ketik.com. Personel gabungan kemudian dikerahkan untuk memadamkan api.
Api berkobar sekitar pukul 14.00 WIB dan membakar vegetasi di dua lokasi di sisi timur Mentigen, menurut CNBC Indonesia. Pemicu kebakaran belum diungkapkan pihak berwenang.
Dalam karhutla Bromo itu, sekitar pukul 13.30 WIB tiga orang ditemukan meninggal saat pemadaman masih berlangsung. Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menyebut lokasi kebakaran cukup dekat dengan sebuah hotel.
“Ketiga korban ditemukan meninggal sekitar pukul 13.30 WIB.” (Endrip Wahyutama, Pranata Humas Balai Besar TNBTS, dikutip Ketik.com)
Polda Jawa Timur menyebut enam orang ditemukan terjebak di area karhutla Bromo. Tiga orang meninggal dan tiga lainnya mengalami luka bakar saat api tiba-tiba membesar ketika mereka berupaya memadamkannya.
Identitas Korban Meninggal dan Korban Luka
Tiga korban yang meninggal di lokasi adalah Sukaris (55), Wisnu Yuda Pratama (25), dan Sefriel Ardiansyah (19), menurut CNN Indonesia. Sukaris merupakan operator layanan operasional Balai Besar TNBTS.
Wisnu dan Sefriel merupakan petugas keamanan Artotel di kawasan tersebut. WartaBromo menyebut Sefriel sebagai atlet panjat tebing Kota Probolinggo.
Korban keempat, Hendra Rony Wagiyanata, adalah anggota Manggala Agni Pemula Balai Besar TNBTS. Ia meninggal setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar.
“Almarhum berpulang setelah menjalani perawatan intensif pasca pelaksanaan tugas pemadaman kebakaran.” (Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar TNBTS, dikutip CNN Indonesia)
Korban luka akibat karhutla Bromo lainnya adalah Munawi dari Masyarakat Peduli Api dan Suraji, petugas keamanan Artotel. Keduanya dirujuk dari RSUD Tongas ke RSUD Dr Soetomo Surabaya, menurut VIVA Jatim.
Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengonfirmasi korban meninggal bertambah menjadi empat orang. Balai Besar TNBTS mengimbau masyarakat menghindari aktivitas yang dapat memicu api di kawasan hutan konservasi.
Karhutla Bromo Bukan yang Pertama Tahun Ini
Karhutla Bromo tahun ini bukan kejadian pertama di kawasan tersebut. Pada Agustus 2026, karhutla Bromo sempat meluas hingga 921 hektare dengan medan terjal yang menghambat pemadaman.
Pelatih FPTI Kota Probolinggo, Iwan Rosidi, mengaku mendengar kabar karhutla Bromo sekitar pukul 14.00 WIB. Ia baru mengetahui daftar korban sekitar pukul 16.00 WIB.
“Sefril atlet yang baik. Dia suka membantu dan peduli kepada adik-adik angkatannya.” (Iwan Rosidi, pelatih FPTI Kota Probolinggo, dikutip WartaBromo)
Sefriel telah meraih medali di sejumlah kejuaraan panjat tebing. Ia sedang bersiap mengikuti kompetisi pada 2027.
Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia
Karhutla Bromo terjadi saat kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah Indonesia. Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB yang berjanji merespons karhutla dalam hitungan menit.
Kapolri Suyudi Ario Seto menyatakan penegakan hukum karhutla kini mengerucut ke korporasi. Bareskrim Polri sebelumnya mencatat 273 laporan polisi dan 223 tersangka perorangan di 12 polda.
Hingga Kamis malam, 15 Oktober 2026, korban meninggal akibat karhutla Bromo tercatat empat orang. Dua korban luka bakar dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk perawatan lanjutan. Ikuti perkembangan lain di kanal Nasional.








