Kebakaran Rinjani terus meluas hingga mencapai 1.098,75 hektare pada Minggu, 27 September 2026. Api masih terpantau menyala di lereng utara Puncak Sangkareang, Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
Kebakaran Rinjani Berawal dari Bukit Setampol
Api pertama kali terpantau pada Selasa, 22 September 2026, sekitar pukul 18.50 WITA. Titik api muncul di kawasan Bukit Setampol, Resor Torean, Kabupaten Lombok Utara.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mencatat koordinat lokasi kejadian pada 116 derajat 25 menit Bujur Timur dan 8 derajat 21 menit Lintang Selatan. Vegetasi yang terbakar berupa hutan pinus, savana pegunungan, alang-alang, perdu, semak, rumput, dan serasah kering.
Luas area terdampak terus direvisi seiring pemantauan lapangan. Angka 589,23 hektare tercatat pada 24 September 2026, lalu naik menjadi 723,7 hektare, 977,74 hektare, hingga 1.098,75 hektare pada 27 September 2026.
Api Masih Menyala di Lereng Utara Puncak Sangkareang
BTNGR menyatakan sebagian sektor sudah berhasil dipadamkan. Namun titik api di lereng utara Puncak Sangkareang belum sepenuhnya terkendali hingga laporan terakhir dirilis.
“Beberapa sektor sudah berhasil dipadamkan. Namun, api masih terpantau menyala di lereng utara Puncak Sangkareang.” — Astekita Ardiaristo, Kepala Subbagian Tata Usaha BTNGR
Astekita menegaskan angka luas terbakar masih bersifat sementara. Data akan terus diperbarui berdasarkan pemantauan lapangan, pemetaan udara, serta verifikasi batas area terdampak.
Sebanyak 90 Personel Gabungan Dikerahkan ke Titik Api
Sebanyak 90 personel dan tenaga pendukung dikerahkan untuk menangani kebakaran Rinjani. Mereka bekerja secara bergilir karena jangkauan api yang terus berpindah.
Tim gabungan berasal dari BTNGR, Manggala Agni, KPH Rinjani Barat, Masyarakat Peduli Api (MPA), kepolisian, TNI, dan porter setempat. Pemadaman awal difokuskan di kawasan Bukit Setampol. Penanganan ini menambah beban di tengah karhutla di Kalimantan yang belum pulih.
Petugas menghadapi kendala berat di lapangan, yaitu medan terjal berbatu, akses sulit, angin kencang, kabut, serta vegetasi yang sangat kering. Perjalanan menuju titik api membutuhkan waktu sekitar delapan jam.
BTNGR menyatakan keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasi. Pemantauan juga dilakukan melalui patroli di jalur Senaru.
Jalur Pendakian Torean dan Senaru Ditutup Sementara
Jalur pendakian Torean ditutup sejak 23 September 2026. Penutupan kemudian meluas ke jalur Senaru pada 26 September 2026 setelah api mengarah ke Pelawangan Senaru.
“Menyusul terjadinya kebakaran hutan di Bukit Setampol, Resor Torean, pada Selasa 22 September 2026, kami menetapkan penutupan sementara jalur wisata pendakian Torean.” — Budy Kurniawan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Pendaki pemegang tiket elektronik jalur Torean diberi opsi menjadwalkan ulang kunjungan. BTNGR sebelumnya juga membuka akses keluar dan masuk melalui jalur Sembalun atau Senaru sesuai arahan petugas, sebelum jalur Senaru turut ditutup.
Penyebab Kebakaran Rinjani Belum Diumumkan Resmi
Hingga Senin, 28 September 2026, penyebab kebakaran Rinjani belum diumumkan secara resmi. BTNGR menyatakan pemadaman masih menjadi prioritas utama tim gabungan di lapangan.
Evaluasi pembukaan kembali jalur pendakian akan dilakukan setelah api dinyatakan padam. BTNGR menyebut keselamatan pengunjung menjadi dasar penilaian tersebut.
BTNGR memastikan jalur pendakian lain di Gunung Rinjani tetap dibuka selama penanganan berlangsung. Jalur Sembalun masih melayani pendaki dengan pengawasan petugas.
Penanganan kebakaran Rinjani dikoordinasikan bersama TNI, Polri, dan pemangku kepentingan kawasan. Manggala Agni serta Masyarakat Peduli Api diterjunkan untuk pemadaman awal dan pengendalian api.
Kabut dan angin di ketinggian menurunkan efektivitas operasi pemadaman. BTNGR menyebut faktor cuaca itu berulang kali memengaruhi jangkauan tim di lapangan.
Api dilaporkan menjalar dari Bukit Setampol ke arah Pelawangan Senaru pada 26 September 2026. Kondisi tersebut menjadi dasar penutupan jalur pendakian Senaru.
Kejadian ini telah berlangsung selama enam hari sejak terdeteksi pada 22 September 2026. BTNGR memperbarui data luas area terdampak setiap hari berdasarkan laporan tim lapangan.
Petugas melakukan patroli dan pemantauan melalui jalur Senaru selama proses pemadaman berlangsung. Kegiatan itu berjalan bersamaan dengan penyisiran di kawasan Bukit Setampol. Simak pula rangkaian berita kebakaran lainnya.
Status penanganan kebakaran Rinjani masih berjalan dengan luas terdampak 1.098,75 hektare. Dua jalur pendakian utama, Torean dan Senaru, tetap tertutup bagi pendaki sampai pemberitahuan berikutnya.

