Pandji Pragiwaksono Buka-bukaan Kenapa Pilih Jokowi Ketimbang Prabowo

142
Pandji Pragiwaksono.

beritaenam.com, Jakarta – Pandji Pragiwaksono buka-bukaan memilih Joko Widodo (Jokowi) sebagai Capres 2019 ketimbang Prabowo Subianto. Sang komika membeberkan empat alasan mengapa mencoblos Capres nomor 01 tersebut.

Salah satu alasannya yakni soal gaya kepemimpinan atau karakter dari calon pemimpin Republik Indonesia. Pandji mengaku tak pernah suka dengan orang yang memiliki karakter keras dan emosional.

“Yang pertama soal gaya kepemimpinan, hmm secara umum dari dulu gue nggak pernah suka gaya kepemimpinan yang keras. Gue nggak pernah memilih pemimpin sejauh ini yang kelihatan punya kesulitan untuk mengontrol dirinya. Karena gue selalu berpikir, ini prinsip yang gue pakai di dunia entertainment, kalau lo nggak bisa mengatur diri lo, lo nggak bisa mengatur acara kalau dalam konteks MC atau presenting,” ujarnya di channel YouTube, Senin (22/4/2019).

Pandji Pragiwaksono memilih Jokowi karena mempertimbangkan sisi emosionalnya. Bukan hanya Jokowi, sebelumnya dia juga sudah memilih beberapa orang yang dirasa bersifat menenangkan.

“Hal yang sama juga di kepemimpinan Presiden, orang yang menurut gue emosional tidak pernah jadi pilihan gue. Gue melakukan pertimbangan ini sejak zaman memilih Pak SBY. Pak SBY tenang dan cenderung berhati-hati bahkan untuk berkomentar atau mengambil keputusan. Pak Jokowi juga seperti itu. Mas Anies juga seperti itu. Dan kali ini Pak Jokowi juga seperti itu,” tuturnya.

“Gue nggak pernah setuju tuh dengan anggapan ya Indonesia tuh harus dikerasin, ditegasin. Gue nggak pernah suka pendekatan seperti itu, karena pendekatan seperti itu merendahkan masyarakat Indonesia, karena masyarakat Indonesia bukan anak SD. Anak zaman sekarang tuh nggak bisa dikerasin, tapi dilogika-in. Dari alasan itu saja gue lebih memilih cenderung Pak Jokowi daripada Pak Prabowo,” lanjutnya, seperti dikutip dari detik.com

Pandji juga melihat sosok Prabowo sebagai orang yang saklek dan tak adaptif. Menurutnya, di zaman sekarang butuh pemimpin yang melek akan perubahan.

“Gaya kepemimpinan lain atau karakteristik orang yang jadi pertimbangan gue adalah gue bilang Pak Prabowo orangnya saklek, tapi itu gambarkan beliau tidak adaptif. Nah Pak Jokowi kendati pun istilahnya mencla-mencle, gue ngerasa Indonesia zaman sekarang, dunia zaman sekarang, kita butuh orang yang terbuka akan kebaruan,” katanya.