Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke level Rp17.500 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026) dilansir dari data investing.com, dipicu oleh penolakan keras Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian Iran yang seketika memperburuk sentimen pasar global. Rupiah melemah terutama dipicu oleh sentimen global, yakni kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat yang membuat dolar AS menguat serta ketegangan geopolitik yang mendorong investor mengalihkan modal ke aset aman. Kondisi ini diperparah oleh tekanan internal seperti kenaikan harga minyak yang membengkakkan biaya impor BBM serta kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran nasional, sehingga pasokan dolar di pasar domestik menjadi lebih terbatas.
Rupiah Dibuka Melemah 84 Poin pada Selasa Pagi
Berdasarkan data Bisnis.com, rupiah dibuka melemah 0,48 persen atau 84 poin ke posisi Rp17.498 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB hari ini. Ini merupakan pelemahan harian terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,16 persen ke level 98,11.
Secara tahunan, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 4,34 hingga 5,43 persen terhadap dolar AS. Dalam sebulan terakhir saja, rupiah sudah melemah hampir 1,95 persen, menempatkan mata uang Garuda ini mendekati titik terendah sepanjang tahun yang pernah dicapai pada 6 Mei 2026 di level Rp17.451 per dolar AS.
Penguatan dolar AS dipicu oleh sikap keras Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran. Trump menyebut tanggapan Teheran sama sekali tidak dapat diterima, yang seketika meredam harapan pasar akan de-eskalasi di kawasan Teluk. — Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, kepada Bisnis.com
Perang Iran dan Selat Hormuz Tekan Pasar Asia
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen negatif yang menekan rupiah bersumber dari gejolak geopolitik konflik AS-Iran. Upaya damai antara kedua pihak kembali terancam gagal setelah Trump menyebut respons Iran terhadap proposal AS sebagai sampah.
Kondisi ini membuat Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan energi dunia sebelum perang, berisiko kembali ditutup untuk pelayaran komersial. Harga minyak mentah Brent pun melonjak 2,7 persen ke kisaran 104 dolar AS per barel, memperburuk tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah bersamaan. Yen Jepang terdepresiasi 0,28 persen, won Korea Selatan turun 0,37 persen, baht Thailand melemah 0,81 persen, dan peso Filipina turun 0,84 persen terhadap dolar AS.
Cadangan Devisa Menyusut, BI Terus Intervensi
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sisi domestik. Bank Indonesia (BI) diketahui terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui mekanisme pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam volatilitas berlebihan.
Bos BI sebelumnya menyatakan intervensi yang dilakukan sudah dilakukan secara habis-habisan, bukan sekadar intervensi biasa. Cadangan devisa Indonesia pun dilaporkan mengalami penurunan akibat beban intervensi yang semakin besar. Suku bunga acuan BI saat ini bertahan di level 4,75 persen, sementara The Fed AS mempertahankan suku bunga di 3,75 persen.
Intervensi rupiah sudah habis-habisan, tidak cuma biasa saja. — Gubernur Bank Indonesia, dikutip Investor.id
Defisit APBN Kuartal I Capai Rp240,1 Triliun
Di sisi fiskal, tekanan terhadap APBN semakin besar seiring realisasi defisit anggaran yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I/2026. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap prospek penerimaan negara dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
Meski demikian, indikator makroekonomi Indonesia pada April 2026 dinilai masih cukup stabil. Tingkat inflasi terjaga di angka 2,42 persen, dan pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap di atas 5 persen sepanjang 2026. Bank Indonesia juga sudah menyiapkan lima strategi untuk menghadapi tantangan ekonomi global, dengan proyeksi pertumbuhan 4,9 hingga 5,7 persen.
Proyeksi Rupiah Hari Ini
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah pada Selasa (12/5/2026) akan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS. Pergerakan ini akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan data inflasi AS yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat.
Bank Indonesia mengimbau pelaku usaha dan masyarakat yang memerlukan informasi nilai tukar akurat untuk merujuk ke portal resmi BI melalui data Kurs Transaksi yang mencakup 25 mata uang asing utama.
Baca juga: Update Terbaru Perang Iran AS Mei 2026







