Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026, mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah. Istana menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kuat, sementara Bank Indonesia terus melakukan intervensi stabilisasi nilai tukar.
Berdasarkan data perdagangan valuta asing pada investing.com, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp18.015 hingga Rp18.025 per dolar AS pada sesi pagi. Sehari sebelumnya, rupiah telah ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.
Respons Istana: Koordinasi Intensif Tiga Otoritas
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi merespons langsung situasi pelemahan rupiah. Ia menyatakan pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
“Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah.”
– Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, 4 Juni 2026
Prasetyo menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada level yang kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional dan tingkat inflasi yang masih terjaga.
BI Ungkap Dua Penyebab Utama Tekanan Rupiah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan dua faktor utama di balik tekanan rupiah. Pertama, eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian dan mendorong investor ke aset aman. Kedua, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri akibat repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai.”
– Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, 4 Juni 2026
Data BI mencatat rupiah secara tahun berjalan (year to date) telah melemah 7,44 persen. Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, dinilai masih memadai untuk mendukung stabilisasi nilai tukar.
BI juga mempercepat diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Nilai transaksi LCT pada April 2026 mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS, mendekati total sepanjang 2025 yang sebesar 25,7 miliar dolar AS.
Menkeu: Dampak Utang Sudah Diperhitungkan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berdampak pada besaran pembayaran utang pemerintah dalam denominasi valuta asing jika dihitung dalam rupiah. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang telah diperhitungkan pemerintah.
Purbaya menegaskan kupon surat utang pemerintah bersifat tetap (fixed rate), sehingga tidak berubah akibat fluktuasi nilai tukar. Pemerintah juga menyiapkan peningkatan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) apabila situasi memerlukan langkah lebih lanjut untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Analis: BI Perlu Intervensi Agresif
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditambah sentimen domestik yang masih kurang kondusif. Ia memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif.”
– Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures
Pelemahan rupiah ke Rp18.000 yang melampaui rekor sebelumnya menjadi perhatian serius pelaku pasar, investor, dan dunia usaha. Deputi BI Destry menyebutkan pelemahan ini sejalan dengan pergerakan mata uang negara-negara kawasan Asia lainnya yang turut tertekan oleh dominasi dolar AS di pasar global.
Baca juga: BGN Luncurkan Aplikasi Reviu MBG, Guru dan Posyandu Kini Awasi Kualitas Makan Bergizi Gratis







