Sahabatku Eddie Karsito, Lebih Sreg di Sebut Guru Ngaji

264

Saya lewat WhatsApp aplikasi pesan instan, pagi-pagi japrian dengan sahabat. Dia seorang journalist dan seniman tulen. Namanya kakang mas Eddie Karsito. Hidupnya di dedikasikan buat dunia seni dan sosial. Dia punya sanggar seni, dan sering bikin pelatihan buat anak-anak supaya berani tampil di depan publik dengan rasa percaya diri yang tinggi. Selain itu dia juga seorang pekerja sosial.

Dia sering menyantuni anak-anak jalanan, yatim dan kaum lansia. Hatinya sering terusik, ketika lihat sekelilingnya masih ada yang hidup papa dalam keterbatasan. Saya sering bertukar pikiran sama dia. Bahwa memberi bukan semata-mata dalam bentuk barang atau uang. Empati dan perhatian juga bisa dalam bentuk ilmu. Makanya disebut sedekah ilmu. Perjalanan hidupnya, nyaris sama dengan saya. Merintis dari bawah, dan tipe pekerja keras. Hanya bedanya, saya kurang begitu pede kalau disuruh berbicara di depan banyak orang, sementara kakang mas ini terbiasa tampil sebagai seniman teater dan dia adalah organisatoris, makanya pede abis! kalau disuruh berpidato, atau ngasih sambutan.

Saya melihat dia punya wilayah pergaulan luas dan warna warni. Mulai dari pejabat atas, sampai masyarakat bawah dan kaum papa. Eksistensinya di dunia kesenian, tak pernah pudar, menurut saya karena mas Eddie menggunakan hati dalam mengolah rasa dan empati. Itu di implementasikan dalam dua dunia secara bersinergi; yaitu panggung dan kehidupan nyata.

“Sukses dengan aktifitas berkesenian ya mas. Doakan saya sukses juga dalam berkreatifitas dalam seni bisnis,” kata saya dalam obrolan WhatsApp.

Lantas dia jawab: amiin mubaraq. amiin ya Allah, mudahkan, lancarkan, sungguh orang-orang baik adalah orang-orang yang tasamuh yang senantiasa mengharap ridho-Mu dan tidak mementingkan diri sendiri, amiin ya robbal alamiin.

Masih lewat jejaring pesan instan terbesar di dunia yang hingga Januari 2018 mencapai 1.5 miliar pengguna aktif bulanannya, lanjut Eddie Karsito, menuliskan begini – Biar punya latar belakang kewartawanan. Tapi saya lebih sreg dengan sebutan guru ngaji ya? Mengaji disini lebih kepada segala permasalahan di kaji bersama ya? Apakah keagamaan, politik, sosial, dan budaya.

Demikian pagi ini saya spontan menulis sekilas tentang sahabat saya.

Cibubur Point – 28.08.18