Site icon Beritaenam.com

Sekjen PBB Temui Presiden Iran, Desak Dialog untuk Akhiri Konflik di Selat Hormuz

Sekjen PBB

Sekjen PBB Antonio Guterres bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat, 25 September 2026. Pertemuan itu membahas penyelesaian konflik Timur Tengah dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Sekjen PBB Tekankan Penyelesaian Konflik Lewat Dialog

Pertemuan berlangsung di New York, Amerika Serikat, di sela rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua pihak membahas upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik bersenjata di kawasan.

Usai pertemuan, PBB merilis pernyataan resmi mengenai isi pembicaraan. Pernyataan itu menekankan dialog, perundingan, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

“Sekjen PBB menekankan kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui dialog dan perundingan, dengan menghormati sepenuhnya hukum internasional, termasuk hak dan kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz.” — Pernyataan resmi PBB

Iran Tawarkan Rencana Tujuh Hari Melalui Qatar

Pertemuan Sekjen PBB dengan Pezeshkian berlangsung bersamaan dengan langkah Iran mengajukan proposal kepada AS. Iran menawarkan rencana tujuh hari untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan proposal tertulis itu telah dikirim secara resmi ke Washington melalui Qatar. Ia menyebut selat dapat dibuka dalam tujuh hari jika syaratnya terpenuhi.

Syarat yang diajukan Iran antara lain pencabutan blokade laut dan sanksi terhadap minyak Iran. Proposal itu juga mencakup dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS.

Trump Tolak Tawaran Iran Sehari Kemudian

Sehari setelah pertemuan, Presiden AS Donald Trump menyatakan menolak proposal Iran. Trump menyebut kesepakatan yang ditawarkan Teheran tidak dapat diterima.

Araghchi pada 27 September 2026 menyatakan Iran belum menerima jawaban resmi dari mediator. Iran memilih menunggu tanggapan definitif sebelum mengambil langkah lanjutan.

“Kami menunggu pendapat definitif yang akan disampaikan kepada kami oleh para mediator dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut.” — Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran

Konflik Iran dan AS Berlangsung Sejak Februari 2026

Konflik bersenjata antara Iran dengan AS dan Israel berlangsung sejak 28 Februari 2026. Iran kemudian menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.

Nota kesepahaman yang disepakati pada Juni 2026 tersendat karena ketentuan yang tidak jelas. Salah satu persoalan yang belum tuntas adalah kendali atas selat tersebut.

Data Pentagon mencatat 861 personel militer AS menjadi korban dalam konflik dengan Iran. Pada 14 September 2026, delapan marinir AS terluka akibat serangan rudal Iran terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz.

Kedelapan marinir itu mengalami luka akibat menghirup asap dan dugaan cedera otak ringan. Seluruhnya dilaporkan kembali bertugas tidak lama setelah insiden.

Kesepakatan awal yang dibahas dalam proposal itu juga mencakup pencairan aset Iran yang dibekukan. Poin lain adalah penghentian operasi militer, termasuk di Lebanon.

Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menyatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan konfrontasi militer dengan AS. Pernyataan itu dilaporkan Reuters pada 27 September 2026.

Trump menyatakan tetap menyukai kesepakatan, tetapi menilai tawaran Iran tidak dapat diterima. Ia juga menyebut Iran ingin selat segera dibuka karena berada dalam posisi terdesak.

Ketegangan di kawasan juga melibatkan kelompok Houthi. Arab Saudi menyatakan mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak yang diluncurkan kelompok tersebut pada Sabtu, 26 September 2026.

Pernyataan Sekjen PBB menempatkan kebebasan navigasi sebagai bagian dari hukum internasional yang perlu dihormati. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi pasokan energi dunia.

Harga minyak Brent naik 3,19 persen ke US$107,65 per barel pada Senin, 28 September 2026. Kenaikan itu terjadi di tengah minimnya kemajuan perundingan AS dan Iran.

Di Indonesia, rupiah melemah 0,42 persen ke Rp17.978 per dolar AS pada hari yang sama. Analis menyebut sikap keras Iran terkait Selat Hormuz sebagai pemicu utama pelemahan. Simak berita internasional lainnya.

Guterres menjabat Sekretaris Jenderal PBB sejak 1 Januari 2017, sedangkan Pezeshkian menjabat Presiden Iran sejak Juli 2024.

Seruan Sekjen PBB agar konflik diselesaikan lewat dialog belum diikuti kesepakatan antara Iran dan AS. Proposal pembukaan Selat Hormuz yang diajukan Teheran masih menunggu jawaban resmi Washington melalui mediator.

Exit mobile version