Bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 sampai 4,00 persen pada Rabu, 16 September 2026 waktu setempat. Ini kenaikan pertama sejak Juli 2023.
Federal Open Market Committee (FOMC), komite pembuat kebijakan The Fed, memutuskan kenaikan itu secara bulat dengan suara 12-0. Pengumuman tersebut jatuh pada Kamis, 17 September 2026 dini hari waktu Indonesia.
Alasan kenaikan suku bunga The Fed karena inflasi masih tinggi
Dalam pernyataan resminya, FOMC menilai inflasi Amerika Serikat masih berada di level tinggi. Kenaikan suku bunga The Fed kali ini bertujuan mempercepat kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen, menurut laporan Kompas.com.
“Inflasi masih tinggi. Tindakan kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya lebih cepat ke target Komite sebesar 2 persen.” — Pernyataan FOMC
Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan alasan serupa dalam konferensi pers seusai rapat. Warsh memimpin bank sentral AS sejak Mei 2026, menggantikan Jerome Powell.
“Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama.” — Kevin Warsh, Ketua The Fed
Keputusan ini berlawanan dengan desakan Presiden AS Donald Trump, yang meminta The Fed menurunkan suku bunga. Sebelum rapat, pasar sudah memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed lebih dari 90 persen.
Menurut The Fed, aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid. Belanja domestik tetap tangguh, produktivitas tumbuh kuat, dan investasi modal masih kokoh.
Riwayat pergerakan suku bunga The Fed sejak 2024
Sepanjang Januari hingga Juli 2024, The Fed menahan suku bunga di kisaran 5,25 sampai 5,50 persen. Bank sentral itu mulai memangkas suku bunga sebesar 50 bps pada September 2024.
Pemangkasan berlanjut pada November dan Desember 2024, lalu kembali terjadi mulai September 2025. Pemangkasan terakhir pada Desember 2025 membawa suku bunga ke kisaran 3,50 sampai 3,75 persen.
Setelah itu, The Fed menahan suku bunga dalam lima pertemuan berturut-turut sepanjang Januari hingga Juli 2026. Rapat September menjadi titik balik suku bunga The Fed menuju pengetatan.
Dot plot tunjukkan ruang satu kenaikan lagi tahun ini
Proyeksi ekonomi terbaru atau dot plot memperlihatkan 12 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan suku bunga di sekitar 4,125 persen pada akhir 2026. Angka itu setara dengan satu kenaikan tambahan sebesar 25 bps, menurut Fortune Indonesia.
Empat pejabat lain memproyeksikan total kenaikan 50 bps pada sisa tahun ini. Dua pejabat menilai level suku bunga The Fed saat ini sudah memadai.
The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,7 persen dari 3,6 persen pada Juni. Bank sentral memperkirakan inflasi baru kembali ke target 2 persen pada 2029.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS naik menjadi 2,3 persen dari 2,2 persen. The Fed memproyeksikan tingkat pengangguran akhir 2026 sebesar 4,1 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,3 persen.
Respons pasar global terhadap kenaikan suku bunga
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,21 persen ke 51.461,90 pada penutupan perdagangan setelah pengumuman. S&P 500 melemah 0,45 persen, sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 0,01 persen.
Indeks dolar AS menguat sekitar 0,65 persen. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat naik 6 bps, dan harga emas berjangka turun 1,2 persen.
Di Asia, bursa bergerak beragam pada Kamis, 17 September 2026. Nikkei 225 Jepang naik 0,18 persen, KOSPI Korea Selatan menguat 0,14 persen, dan STI Singapura bertambah 0,29 persen.
Sebaliknya, Shanghai Composite turun 0,45 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,50 persen. Bank of Japan kemudian menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 1,25 persen, sebagaimana dijelaskan pada laporan kenaikan suku bunga Jepang ke level 1,25 persen.
Dampak ke rupiah dan agenda Bank Indonesia
Di dalam negeri, rupiah melemah 0,03 persen ke Rp17.758 per dolar AS pada penutupan Jumat, 18 September 2026, berdasarkan data Doo Financial Futures dalam laporan Bisnis.com. IHSG turun 0,33 persen ke level 6.441,16 pada hari yang sama.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan tipis rupiah berkaitan dengan sikap pasar yang menanti Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Rapat tersebut berlangsung pada 22 sampai 23 September 2026.
Dengan keputusan ini, suku bunga The Fed kini berada di kisaran 3,75 sampai 4,00 persen. Rapat BI pekan ini menjadi agenda kebijakan moneter domestik berikutnya yang menjadi perhatian pelaku pasar.








