Presiden Amerika Serikat Donald Trump batalkan serangan militer terbaru terhadap Iran yang dijadwalkan pada Selasa (19/5/2026), setelah para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab memintanya menunda operasi demi memberikan ruang bagi negosiasi diplomatik.
Permintaan Negara Teluk Jadi Faktor Penentu
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa para pemimpin ketiga negara Teluk tersebut meyakini kesepakatan yang dapat diterima oleh pihak Washington akan segera tercapai. Trump juga menegaskan kembali komitmennya bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.
“Kita akan mengakhiri perang itu dengan sangat cepat. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan, mereka sudah lelah dengan ini. Saya pikir kita akan segera menyelesaikannya, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir.”
— Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kepada awak media di Gedung Putih
Menurut sejumlah pejabat AS dan sumber-sumber regional, keputusan Trump menunda serangan sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran pemimpin Teluk atas potensi pembalasan Iran yang menyasar fasilitas dan infrastruktur minyak di kawasan, termasuk bandara internasional, pusat petrokimia, dan pabrik desalinasi air.
Blokade Selat Hormuz Tetap Berlaku
Meski membatalkan serangan, Trump menegaskan blokade AS terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap berlaku sepenuhnya sampai sebuah kesepakatan tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani. Hal ini disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Minggu (24/5/2026).
Trump juga mengatakan kepada para perwakilannya agar tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan apa pun dengan Iran. Operasi militer sebelumnya, yang dinamai Operasi Epic Fury, telah dinyatakan selesai oleh Gedung Putih. Operasi pengawalan kapal Project Freedom kemudian juga dihentikan sementara untuk memberikan ruang bagi proses diplomatik.
“Kami telah saling menyepakati bahwa sementara blokade akan tetap berlaku penuh dan efektif. Project Freedom akan dihentikan sementara untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan dapat diselesaikan dan ditandatangani.”
— Donald Trump, via Truth Social
Respons Iran dan Posisi Negosiasi
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa respons Teheran atas proposal terbaru Washington telah disampaikan kepada pihak AS melalui mediator Pakistan. Tuntutan Iran mencakup pencairan aset-asetnya yang dibekukan di luar negeri dan pencabutan sanksi-sanksi.
Di sisi lain, pejabat senior AS memberikan keterangan yang berbeda dengan pernyataan Trump. Kepada media Axios, pejabat tersebut menyatakan bahwa usulan terbaru yang diajukan Iran tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Sumber regional menyebutkan para mediator internasional masih terus berupaya agar Iran menunjukkan posisi yang lebih fleksibel.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Keputusan Trump menunda serangan ke Iran berdampak langsung pada pasar global. Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 2 persen pada perdagangan Asia setelah pengumuman tersebut, karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz berkurang. Sentimen ini turut mendorong penguatan rupiah pada perdagangan Senin (25/5/2026) pagi, di mana rupiah menguat ke level Rp17.700 per dolar AS.
Indonesia termasuk dalam koalisi 10 negara yang menggalang sikap bersama soal situasi di kawasan, bersama Turkiye, Bangladesh, Brazil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol. Kemlu RI juga sedang menangani kasus penahanan lima WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) ke Gaza.
Baca juga: Update Terbaru 9 WNI yang Ditahan Israel Telah Dibebaskan dan Tiba di Istanbul








