Seorang siswa SMK di samarinda meninggal dunia akibat sepatu yang kekecilan, Mandala Rizky Syahputra (16), siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, meninggal dunia pada 24 April 2026 setelah mengalami pembengkakan kaki yang diduga dipicu penggunaan sepatu sekolah yang terlalu sempit. Kasus ini viral di media sosial dan mendapat perhatian dari Wakil Menteri Pendidikan hingga Menteri Sosial, termasuk karena korban belum terdaftar sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP).
Kronologi Siswa SMKN 4 Meninggal dengan Sepatu Kekecilan
Berdasarkan keterangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur, Mandala mulai mengeluhkan kondisi kesehatan setelah menjalani Praktik Kerja Pra PKL sebagai pramuniaga di pusat perbelanjaan. Kegiatan tersebut berlangsung sejak 9 Februari hingga 20 Maret 2026 dan mengharuskan Mandala berdiri dalam waktu lama.
Kondisi Mandala diketahui mengalami penurunan ketika pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumahnya. Saat itulah terungkap bahwa Mandala menggunakan sepatu ukuran 40, padahal ukuran kakinya 43. Keterbatasan ekonomi membuat keluarga tidak mampu membeli sepatu yang sesuai.
“Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan.” — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur
Menurut pernyataan pihak SMKN 4 Samarinda, ibu Mandala sempat melarang anaknya bercerita kepada sekolah tentang kondisi sepatunya. Fakta soal sepatu baru terungkap saat kunjungan sekolah pada 23 April 2026. Sekolah berencana membelikan sepatu baru keesokan harinya, namun pada 24 April 2026 dini hari, kabar duka sudah tiba. Kakak Mandala mengirim pesan melalui WhatsApp kepada wali kelas bahwa Mandala telah meninggal dunia.
Mandala tidak pernah dibawa ke fasilitas kesehatan. Ibunya hanya mengoleskan balsem pada kaki yang bengkak dan memberikan suplemen penambah darah, karena menduga Mandala mengalami anemia. Selain itu, Mandala juga tidak memiliki BPJS Kesehatan yang aktif. Pihak sekolah berencana mengaktifkan BPJS dan membawa Mandala ke puskesmas, namun rencana itu tidak sempat terlaksana.
Pihak Sekolah Tangani Pemakaman, Belum Ada Diagnosis Medis Resmi
SMKN 4 Samarinda menyatakan telah berupaya memberikan bantuan kepada Mandala dan keluarganya. Sebelum meninggal, sekolah membantu biaya pengobatan, sembako, dan sewa kontrakan. Setelah Mandala wafat, sekolah menanggung seluruh biaya pemulasaraan jenazah, menyediakan ambulans, dan menggelar prosesi salat jenazah di sekolah yang dihadiri guru serta teman-teman.
“Tanpa ada diagnosa medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti.” — Pihak SMKN 4 Samarinda, melalui unggahan Instagram resmi @smkn4_samarinda
Disdikbud Kaltim juga menyampaikan hal serupa. Pihak sekolah dinilai telah melakukan pendampingan secara maksimal, namun tanpa diagnosis medis dari tenaga kesehatan, penyebab kematian Mandala secara resmi belum dapat dipastikan. Kasus ini masih menjadi perhatian publik sambil menunggu kepastian penyebab medis.
Wamendikdasmen Kaget: Mandala Belum Terdaftar PIP
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menyatakan terkejut saat mengetahui kasus ini, terutama karena Mandala belum terdaftar sebagai penerima PIP meski berasal dari keluarga sangat tidak mampu. Pernyataan itu disampaikan Atip dalam acara Sinergi Kemendikdasmen dan Kejaksaan RI pada Rabu, 6 Mei 2026.
“Ada yang siswa SMK, yang meninggal dunia karena memakai sepatu kekecilan. Kaget juga saya. Sampai dipaksakan memakai sepatu yang nomornya kecil, jadi infeksi gitu. Masuk PIP enggak? Nah itu yang saya kaget. Ternyata belum terdaftar.” — Atip Latipulhayat, Wamendikdasmen, dalam Acara Sinergi Kemendikdasmen dan Kejaksaan RI (6/5/2026)
Atip menyebut kasus Mandala menunjukkan masih ada persoalan dalam pelaksanaan PIP, mulai dari ketidaktepatan data, kendala geografis, hingga kurangnya informasi yang menyebabkan bantuan tidak tepat sasaran. Ia mendorong perbaikan sistem agar PIP benar-benar menjangkau siswa dari keluarga paling rentan.
Mensos Desak Perbaikan Data Penerima Bansos
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul turut buka suara atas kasus ini. Ia menegaskan perlunya pembenahan penyaluran bantuan sosial agar tepat sasaran. Gus Ipul menyebut pemerintah menyadari masih ada bansos yang tidak tepat sasaran di lapangan.
Sebagai instrumen perbaikan, pemerintah merujuk pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang diterbitkan melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025. Data tersebut dijadikan acuan untuk menentukan kelayakan penerima bantuan sosial ke depannya.
Risiko Kesehatan Akibat Sepatu Tidak Sesuai Ukuran
Pakar kesehatan menjelaskan bahwa penggunaan sepatu yang terlalu sempit tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat memicu berbagai gangguan pada kaki. Berdasarkan Journal of Foot and Ankle Research, sepatu yang terlalu pendek atau sempit berkaitan dengan nyeri dan kelainan bentuk kaki, terutama bila digunakan dalam jangka panjang.
Masalah umum yang dapat muncul antara lain lecet, kapalan, mata ikan, serta kondisi seperti bunion (menonjolnya sendi ibu jari ke samping) dan hammer toe (jari kaki yang menekuk tidak normal). Menurut National Health Service (NHS) Inggris, tekanan berkepanjangan pada jari kaki juga dapat menyebabkan perubahan posisi sendi dan pembengkakan. Risiko tersebut meningkat ketika pemakai harus berdiri dalam waktu lama, seperti kondisi yang dialami Mandala saat magang.
Kasus Mandala Jadi Cermin Kemiskinan dan Celah Perlindungan Sosial
Kepergian Mandala Rizky Syahputra menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar tentang efektivitas perlindungan sosial bagi pelajar dari keluarga tidak mampu. Pemerintah pusat dan daerah kini menghadapi desakan untuk memperketat validasi data penerima PIP dan bansos, agar tragedi serupa tidak terulang. Penyebab pasti kematian Mandala masih menunggu pendalaman lebih lanjut dari pihak berwenang.
Baca juga: Miris! Pemuka Agama di Pati Diduga Cabuli 50 Siswi, Mengaku Keturunan Nabi








