Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mendorong lonjakan simpanan valuta asing perbankan sebesar Rp83 triliun dalam satu bulan, seiring dengan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.400 per dolar AS, memaksa Bank Indonesia mengambil serangkaian langkah stabilisasi.
Rupiah Melemah, Simpanan Valas Melonjak
Data yang dirilis Tempo.co mencatat simpanan valas di perbankan naik signifikan dalam rentang satu bulan terakhir. Kenaikan ini menggambarkan sikap masyarakat dan pelaku usaha yang memilih mengamankan dana dalam mata uang asing di tengah ketidakpastian nilai tukar.
Nilai tukar rupiah sempat menembus level Rp17.400 per dolar AS, angka yang memicu respons cepat dari Bank Indonesia. BI menyatakan telah mengambil langkah stabilisasi sesuai mekanisme yang diizinkan, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara.
“Pemerintah yang saya pimpin sangat memperhatikan stabilitas rupiah. Ini bukan sekadar angka, ini menyangkut daya beli rakyat.”
— Presiden Prabowo Subianto dalam keterangan publik terkait stabilitas pasar keuangan
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen
Di tengah tekanan nilai tukar, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen. Angka ini melampaui ekspektasi sejumlah analis dan disebut ditopang oleh belanja besar pemerintah, termasuk realisasi program Makan Bergizi Gratis sebesar Rp70,2 triliun per April 2026.
Namun para ekonom mengingatkan bahwa pertumbuhan yang bertumpu pada belanja pemerintah mengandung risiko tersendiri. Ketergantungan pada stimulus fiskal tanpa diimbangi perbaikan ekspor dan investasi swasta dinilai rentan terhadap tekanan eksternal.
Properti Anjlok, Harga Pangan Naik
Bank Indonesia mencatat penjualan properti pada kuartal I 2026 anjlok 25,67 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. BI menyebut kenaikan suku bunga global dan melemahnya daya beli kelas menengah sebagai faktor utama penurunan tersebut. Sepuluh kota besar di Indonesia tercatat mengalami perlambatan harga rumah dalam periode yang sama.
Dari sisi pangan, harga komoditas strategis terus bergerak naik. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai rawit menembus Rp65.000 per kilogram, sementara telur ayam berada di kisaran Rp31.000 per kilogram. Kenaikan ini menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah.
“Stabilitas rupiah menjadi prioritas. Kami akan terus hadir di pasar dan menggunakan seluruh instrumen yang ada.”
— Gubernur Bank Indonesia dalam pernyataan resmi terkait strategi stabilisasi nilai tukar
Pemerintah Siapkan Stimulus Baru
Pemerintah menyatakan sedang menyiapkan stimulus baru untuk memperkuat stabilitas ekonomi. Presiden Prabowo Subianto membahas langkah tersebut dalam pertemuan khusus bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan pasar keuangan global.
Komitmen pemerintah untuk menjaga pertumbuhan menuju target 8 persen pada 2029 tetap menjadi acuan kebijakan. Namun para analis menilai kondisi rupiah yang masih tertekan perlu diatasi lebih dahulu agar fondasi pertumbuhan jangka panjang tidak terganggu.
Baca juga: Rupiah Undervalue, Bank Indonesia Rumuskan 7 langkah Stabilisasi Rupiah








