Demo BEM UI di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Hari Sumpah Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2026, berakhir saat hujan deras. Sepanjang sore, massa tertahan barikade aparat, sempat bentrok, dan dibubarkan dengan gas air mata.
Aksi bertajuk #IndonesiaSadar ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama aliansi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Komite Sadar). Seruan aksinya berbunyi “Prabowo Gibran, Ini Lima Perintah Rakyat! Tepati atau Pergi!”.
Jalannya Demo BEM UI di Bundaran HI
Menurut Katadata, massa mulai memadati Bundaran HI sejak pukul 14.30 WIB. Aksi dipimpin Hafidz Hernand, Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI.
Laporan Kompas.com menyebut sebagian massa tiba dengan angkot merah yang berhenti di samping Halte Transjakarta Tosari. Mereka lalu berlari ke pinggir kolam di sekitar Patung Selamat Datang.
Peserta demo BEM UI mengacungkan tiga jari sambil menyanyikan lagu perjuangan dan membentangkan spanduk protes. Kelompok susulan datang dari arah Hotel Pullman. Di depan Pos Polisi Thamrin, polisi menggeledah tiga pria dan menemukan beberapa alat mekanik serta petasan.
BEM UI berangkat bersama fakultas masing-masing. Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, sebelumnya memperkirakan sekitar 2.500 mahasiswa dan elemen masyarakat ikut serta.
Jumlah Massa Berbeda Antarsumber
Komite Sadar mencatat total 4.000 peserta aksi di Bundaran HI, menurut Katadata. Pukul 16.30 WIB, separuh peserta Komite Sadar disebut masih tertahan di depan Gedung UOB.
Beritasatu memperkirakan sekitar 3.000 orang memadati kawasan Halte Tosari dan depan Plaza Indonesia sejak pukul 16.00 WIB. Jalan MH Thamrin ditutup dari arah Sudirman menuju Tanah Abang dan sebaliknya.
Massa Tertahan Barikade di Gedung UOB
Sebagian massa demo BEM UI tidak bisa mencapai Bundaran HI. Ratusan personel polisi membentuk pagar hidup di depan Gedung UOB, Dukuh Atas.
Menurut JawaPos.com, aparat gabungan menghadang massa di Jalan MH Thamrin. Polisi berada di barisan depan, sedangkan TNI di lapisan kedua. Pukul 17.45 WIB, massa masih bertahan di dekat Gedung UOB sambil mendesak barisan petugas.
Perwakilan Komite Sadar, Nur Maajid Taufiqurrahman, menyebut pihaknya tidak mengetahui alasan pencegatan. Menurut dia, peserta datang dengan damai.
“Upaya-upaya pencegatannya ada yang persuasif, ada juga yang kemudian mengandung tindakan kekerasan.”
Nur Maajid Taufiqurrahman, perwakilan Komite Sadar
Bentrokan di Depan Grand Indonesia
Menurut Suara.com, bentrokan pecah di depan Mal Grand Indonesia. Massa dari Bundaran HI mencoba membantu rekan mereka yang tertahan di depan Plaza UOB.
Sebagian massa melewati sisi barikade, lalu aparat bermotor mengejar mereka. Suara.com melaporkan massa yang tertangkap dipukul dengan baton, tangan kosong, dan helm. Situasi mereda setelah massa dipukul mundur dan aparat mendapat tambahan personel.
Laporan Disway menyebut personel TNI mulai berdatangan pukul 17.39 WIB. Gas air mata ditembakkan sekitar pukul 18.07 WIB saat aparat gabungan membubarkan massa di Jalan Imam Bonjol.
Hingga artikel ini disusun, belum ada data resmi tentang jumlah korban luka maupun orang yang diamankan. Polda Metro Jaya juga belum menyampaikan keterangan resmi soal bentrokan tersebut.
Massa Bubar Saat Hujan
Menurut Okezone, hujan deras mengguyur Bundaran HI menjelang malam. Hingga pukul 18.45 WIB, kelompok mahasiswa mulai membubarkan diri secara tertib.
Usai demo BEM UI, sebagian mahasiswa dan warga masih bertahan dengan payung di trotoar. Kawasan Bundaran HI saat itu masih ditutup sementara untuk kendaraan umum.
Pengamanan dan Respons Pemerintah
Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Akhmadi, menyebut pengamanan demo BEM UI dan aksi lain hari itu melibatkan 14.324 personel gabungan. Personel disebar di Gedung DPR/MPR dan Bundaran HI.
“Jumlah personel gabungan TNI, Polri dan instansi terkait sebanyak 14.324 personel.”
Kompol Akhmadi, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat
Pagi harinya, TMC Polda Metro Jaya mengimbau warga menghindari kawasan Gedung DPR, Bundaran HI, Monas, dan Tugu Tani. Rekayasa lalu lintas disiapkan secara situasional, menurut CNN Indonesia.
Dari pemerintah, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Listyo Sigit dalam jawaban tertulis kepada Katadata menyatakan KSP siap menampung aspirasi perwakilan mahasiswa. Ia juga menyebut aparat akan melayani aksi damai.
Lima Tuntutan dan Kronologi Aksi Sebelumnya
Demo BEM UI kali ini membawa lima tuntutan yang disebut “Lima Perintah Rakyat”:
- Menetapkan karhutla serta bencana di NTT, Papua, dan Sumatera sebagai bencana nasional dan memproses korporasi yang bertanggung jawab.
- APBN pro-rakyat dan penghentian program yang dinilai boros, seperti MBG dan KDMP.
- Menurunkan biaya pendidikan dan memeratakan layanan dasar.
- Menghentikan penyalahgunaan hukum untuk kekuasaan serta memberantas KKN.
- Menjamin kebebasan berpendapat, mengadili pelanggar HAM, dan menghentikan militerisasi ruang sipil.
Rincian tuntutan dan respons Polri sebelum aksi telah dimuat dalam artikel pratinjau demo BEM UI 28 Oktober 2026. Saat itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir mengajak mahasiswa menggelar aksi damai.
Aksi Sumpah Pemuda ini bukan yang pertama. Pada 18 Agustus 2026, massa aksi “Merebut Kemerdekaan” juga gagal menembus Bundaran HI karena tertahan di depan Gedung UOB.
Pada 20 Oktober 2026, Komite Sadar kembali turun ke jalan menandai dua tahun pemerintahan. Tuntutan aksi itu dirangkum dalam artikel demo 2 tahun Prabowo-Gibran. Demo BEM UI pada Hari Sumpah Pemuda digelar delapan hari setelah aksi tersebut.








