Harga minyak dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Kamis, 17 September 2026. Pelemahan terjadi setelah muncul tanda meredanya gangguan pasokan di Timur Tengah menyusul upaya Arab Saudi memulihkan jalur pipa utamanya.
Pergerakan harga minyak dunia sepanjang dua hari terakhir
Pada perdagangan Rabu, 16 September 2026, minyak West Texas Intermediate turun 3,2 persen dan ditutup pada level USD102,43 per barel. Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak 4 Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan Katadata.
Pada hari yang sama, minyak Brent melemah 2,7 persen ke level USD105,83 per barel. Keduanya kembali melanjutkan koreksi pada perdagangan berikutnya.
Pada Kamis pukul 08.31 waktu Singapura, Brent tercatat turun 0,9 persen ke USD104,89 per barel dan WTI melemah 0,9 persen ke USD101,48 per barel. Pada pukul 13.24 GMT, Brent bahkan sempat merosot 2,94 persen ke USD102,72 per barel.
Level tersebut menjadi posisi terendah Brent sejak 10 September 2026. Adapun WTI menyentuh titik terendah sejak 11 September 2026.
Perbedaan angka antarsumber terjadi karena pemantauan dilakukan pada jam yang berlainan. Harga minyak dunia memang bergerak cepat mengikuti perkembangan informasi pasokan.
Secara tahunan, harga minyak mentah tercatat telah naik sekitar tiga perempat. Kenaikan itu dipicu berkurangnya aliran minyak dari Timur Tengah serta berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina.
Meski terkoreksi, harga minyak dunia masih bertahan di atas USD100 per barel. Sepanjang bulan ini, harga tercatat telah melonjak lebih dari 16 persen.
Pemulihan pipa East-West jadi pemicu utama koreksi
Jalur pipa East-West mengangkut minyak melintasi daratan Arab Saudi menuju pesisir Laut Merah. Infrastruktur itu rusak akibat serangan pada pekan sebelumnya sehingga sempat mendorong lonjakan harga.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, sekitar setengah kapasitas pipa diupayakan pulih dalam beberapa hari. Operasional penuh ditargetkan kembali normal dalam waktu enam pekan, seperti dikutip Liputan6.
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyebut penghentian operasi pipa tersebut bersifat sementara. Pernyataan itu ikut meredakan kekhawatiran pelaku pasar.
“Ini adalah gangguan singkat dan sementara.” — Chris Wright, Menteri Energi Amerika Serikat
Jalur pipa itu memiliki peran penting sebagai rute alternatif untuk menghindari pengiriman melalui Selat Hormuz. Kawasan perairan tersebut masih menjadi wilayah sengketa antara Washington dan Teheran, sebagaimana diulas dalam laporan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Tambahan pasokan lewat Oman ikut meredakan kekhawatiran
Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan kargo minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia. Pengiriman dilakukan melalui mekanisme transfer antarkapal di sekitar pelabuhan Sohar, Oman.
Langkah tersebut diambil untuk mengimbangi sebagian gangguan akibat serangan terhadap jaringan pipa. Analis menilai perkembangan itu membuat pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan, sebagaimana dicatat Presscorner.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan situasi belum sepenuhnya aman. Pasar dinilai baru memperoleh kembali sebagian kapasitas, bukan ruang toleransi terhadap gangguan baru.
“Pasar memang mendapatkan kembali sebagian kapasitasnya, tetapi belum mendapatkan kembali ruang toleransi.” — Haris Khurshid, Chief Investment Officer Karobaar Capital LP
Risiko geopolitik masih membayangi pasokan energi
Volume pengiriman minyak melalui kawasan tersebut masih jauh di bawah level sebelum konflik. Perjalanan kapal tanker juga tetap berisiko meski memperoleh pengawalan militer.
Berdasarkan laporan pusat operasi perdagangan maritim, sedikitnya dua kapal telah diserang di jalur perairan itu dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat ketidakpastian pasokan belum sepenuhnya hilang.
Menteri Energi Amerika Serikat menyebut sekitar 18 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi jalur tersebut dalam satu hari pada awal pekan. Rata-rata pengiriman selama tujuh hari tercatat 11 juta barel per hari.
Arab Saudi sebelumnya menyatakan kapasitas produksinya berkurang sekitar 600 ribu barel per hari. Penurunan itu terjadi setelah serangan terhadap sejumlah fasilitas energi di negara tersebut.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia berdampak pada beban impor dan penetapan harga bahan bakar nonsubsidi. Sejumlah produk nonsubsidi sempat mengalami penyesuaian harga BBM pada awal bulan ini.
Fluktuasi harga energi global juga berpengaruh pada asumsi makro dalam perencanaan anggaran negara. Pemerintah biasanya menyesuaikan proyeksi harga minyak mentah Indonesia mengikuti dinamika pasar dunia.
Arah harga minyak dunia selanjutnya akan bergantung pada realisasi pemulihan jalur pipa dan perkembangan geopolitik. Pelaku pasar masih mencermati risiko eskalasi yang dapat kembali mengganggu pasokan energi global.







