Badan Energi Atom Internasional mengumumkan penemuan beberapa ton material nuklir di Suriah, yang disebut sebagai warisan aktivitas nuklir era pemerintahan Bashar al-Assad.
Temuan Material Nuklir di Suriah Diumumkan di Damaskus
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi, menyampaikan temuan tersebut dalam konferensi pers di Damaskus. Ia menyebut para inspektur menemukan material nuklir di sejumlah lokasi di wilayah Suriah. Berita internasional lain di kanal Internasional BeritaEnam.
“Kita berbicara tentang beberapa ton material nuklir yang dapat digunakan untuk tujuan yang salah.” — Rafael Mariano Grossi, Direktur Jenderal IAEA
Menurut Grossi, material tersebut perlu dicatat dan dimasukkan ke dalam sistem pengamanan internasional. Ia menyatakan para ahli Suriah dan IAEA akan bekerja sama memastikan material disimpan secara aman.
Grossi juga mengunjungi lokasi di Deir ez-Zor yang telah ditutup selama 18 tahun. Ia menyebut proses penggalian dan eksplorasi menyeluruh tengah berlangsung di lokasi tersebut.
“Kita mulai membuka lembaran baru, dan membuka lembaran baru bukan berarti melupakan masa lalu.” — Rafael Mariano Grossi, Direktur Jenderal IAEA
Suriah Laporkan Lokasi Secara Sukarela
Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, menyatakan pihaknya mengirim surat resmi kepada IAEA pada 17 Juli 2026. Surat itu berisi pernyataan sukarela mengenai keberadaan material nuklir di lokasi yang sebelumnya tidak diumumkan.
Al-Shaibani menyebut material tersebut merupakan bagian dari warisan yang ditinggalkan rezim sebelumnya. Menurutnya, hasil penilaian teknis menunjukkan bahan-bahan itu tidak menimbulkan risiko. Info resmi tersedia di laman resmi IAEA.
Meski demikian, material tersebut akan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah Suriah dan sistem pengamanan IAEA. Damaskus juga menyatakan komitmennya bekerja sama dengan badan pengawas tersebut.
Pemerintah Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa berjanji memberikan akses bagi inspektur ke lokasi yang dicurigai terkait aktivitas nuklir. Grossi menyampaikan apresiasi atas komitmen kerja sama tersebut.
Latar Belakang Program Nuklir Era Assad
Suriah telah lama menjadi perhatian IAEA terkait dugaan aktivitas nuklir pada masa pemerintahan Bashar al-Assad. Salah satu fasilitas yang disorot adalah dugaan reaktor nuklir di Provinsi Deir ez-Zor.
Pada 2007, Israel melancarkan serangan udara terhadap fasilitas di kawasan tersebut. Lokasi itu baru diketahui publik setelah rentetan serangan tersebut menghancurkan bangunan di sana.
Rezim Assad kemudian meratakan lokasi tersebut dan tidak pernah memberikan tanggapan menyeluruh atas pertanyaan IAEA. Israel sendiri baru mengakui serangan tersebut pada 2018.
Pada 2024, sebelum rezim Assad digulingkan, inspektur IAEA sempat mengambil sampel di tiga lokasi di Suriah. Setahun kemudian, IAEA menyatakan menemukan jejak uranium di salah satu lokasi tersebut.
Bukan Bukti Program Senjata Aktif
Penemuan material nuklir di Suriah dalam jumlah besar tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya program senjata nuklir aktif. IAEA menekankan fokus saat ini adalah pendataan dan pengamanan material.
Grossi menyatakan kerja sama pemerintah Suriah memiliki arti yang sangat penting bagi proses tersebut. Upaya bersama itu diharapkan memastikan aktivitas nuklir Suriah tidak lagi dikaitkan dengan senjata nuklir.
Suriah di bawah pemerintahan barunya juga menyatakan niat mengembangkan energi nuklir untuk keperluan damai. Rencana tersebut disampaikan seiring komitmen bekerja sama dengan badan pengawas internasional.
Rencana Pengamanan Material
IAEA menyatakan akan melakukan inventarisasi terhadap material nuklir di Suriah yang ditemukan tersebut. Seluruh material direncanakan masuk ke dalam sistem pengamanan internasional.
Grossi menyebut salah satu lokasi penyimpanan material telah lebih dulu dilaporkan pemerintah baru Suriah kepada badan tersebut. Lokasi lain juga ditemukan, meski ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Temuan itu menjadi perhatian karena material dalam jumlah besar berpotensi disalahgunakan. Pemerintah baru Suriah membuka akses bagi pemeriksa IAEA untuk mendata seluruh material tersebut.
Warisan Rezim dan Kerja Sama Internasional
Al-Shaibani menyatakan Damaskus sedang berurusan dengan warisan rezim sebelumnya terkait aktivitas nuklir. Ia menyebut pemerintahannya berupaya membangun kerja sama dengan masyarakat internasional.
Keberadaan material nuklir di Suriah kini menjadi salah satu agenda utama kerja sama Damaskus dengan badan pengawas PBB. Proses tersebut dijalankan bersamaan dengan pembukaan akses ke lokasi yang sebelumnya tertutup.
Bashar al-Assad yang berkuasa hampir 25 tahun melarikan diri ke Rusia pada akhir 2024. Hingga berita ini disusun, proses inventarisasi material nuklir di Suriah masih terus berlangsung.








