IHSG sepekan anjlok 7,03 persen dan ditutup di level 5.057,05 pada Jumat, 30 Oktober 2026. Selama lima hari perdagangan itu, investor asing mencatat jual bersih Rp4,20 triliun di seluruh pasar.
Mulai Senin, 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengeluarkan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
Data IHSG Sepekan: Turun 7,03 Persen dalam Lima Hari
Menurut CNBC Indonesia, IHSG hanya menguat satu hari sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Pada Jumat, 30 Oktober, indeks turun 41,01 poin atau 0,80 persen.
Pada perdagangan Jumat itu, IHSG sempat naik ke kisaran 5.110 di menit awal. Indeks lalu menyentuh titik terendah sekitar 4.980 pada pukul 09.40 WIB. Volume perdagangan mencapai 351,48 juta lot dengan nilai transaksi Rp10,38 triliun.
Berdasarkan data Indo Premier yang dikutip CNBC Indonesia, berikut catatan transaksi asing dalam IHSG sepekan:
- Jual bersih di seluruh pasar: Rp4,20 triliun.
- Jual bersih di pasar reguler: Rp5,62 triliun.
- Beli bersih di pasar negosiasi dan tunai: Rp1,42 triliun.
10 Saham Paling Banyak Dilepas Asing
Saham perbankan, telekomunikasi, dan tambang mendominasi daftar jual bersih asing selama IHSG sepekan melemah:
- TLKM (Telkom Indonesia): Rp1,2 triliun.
- BMRI (Bank Mandiri): Rp1,1 triliun.
- BBRI (Bank Rakyat Indonesia): Rp504,9 miliar.
- ANTM (Aneka Tambang): Rp289,9 miliar.
- BBNI (Bank Negara Indonesia): Rp251,8 miliar.
- TINS (Timah): Rp178,6 miliar.
- PTBA (Bukit Asam): Rp171,4 miliar.
- ITMG (Indo Tambangraya Megah): Rp169,4 miliar.
- TPIA (Chandra Asri Pacific): Rp122,4 miliar.
- ISAT (Indosat): Rp112,0 miliar.
10 Saham Paling Banyak Dibeli Asing
Di sisi lain, asing tetap mencatat beli bersih pada sejumlah saham selama IHSG sepekan tertekan. Menurut CNBC Indonesia, berikut daftarnya:
- BBCA (Bank Central Asia): Rp370,0 miliar.
- ASII (Astra International): Rp133,7 miliar.
- BUMI (Bumi Resources): Rp91,9 miliar.
- DEWA (Darma Henwa): Rp89,6 miliar.
- CPIN (Charoen Pokphand Indonesia): Rp69,5 miliar.
- MDKA (Merdeka Copper Gold): Rp68,1 miliar.
- BOGA (Apollo Global Interactive): Rp61,8 miliar.
- BRMS (Bumi Resources Minerals): Rp53,7 miliar.
- MBMA (Merdeka Battery Materials): Rp47,4 miliar.
- EMAS (Merdeka Gold Resources): Rp38,9 miliar.
BEI Keluarkan 81 Saham HSC dari IHSG
Mulai 2 November 2026, sebanyak 81 emiten berkategori HSC tidak lagi dihitung dalam IHSG. Menurut CNBC Indonesia, bobot saham HSC sekitar 18 persen terhadap IHSG, dengan kapitalisasi sekitar 30 persen dari total kapitalisasi pasar.
Kebijakan ini melanjutkan langkah BEI sebelumnya yang mengecualikan saham HSC dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Bobot saham yang keluar akan didistribusikan ke konstituen lain.
“Dalam implementasi awal, tentu tidak akan mengakibatkan penurunan drastis, ya sama seperti kalau kita mengeluarkan saham tertentu, distribusi dari bobot itu akan diberikan kepada sisa saham-saham lain yang masih ada di dalam konstituen indeks.”
Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI
BEI juga menyatakan kapitalisasi pasar bursa tetap dihitung dari seluruh saham, termasuk saham HSC. Perubahan hanya berlaku pada perhitungan indeks.
“Kami sudah melakukan backtest bahwa dengan pengeluaran saham-saham HSC, tidak akan mengakibatkan lonjakan, tetapi dapat mengakibatkan IHSG kita yang lebih kredibel.”
Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI
“Dengan keluarnya HSC dari IHSG tidak akan menurunkan market cap secara keseluruhan. Karena saham-saham HSC tersebut hanya dikeluarkan dari perhitungan IHSG.”
Iding Pardi, Direktur Pengembangan BEI
Latar Belakang: Usulan MSCI dan Gejolak Oktober
Tekanan pada pasar saham terjadi di tengah usulan MSCI menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Arus modal asing yang keluar ikut menekan rupiah, yang ditutup di Rp18.125 per dolar AS pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut seorang investor besar global menyesalkan langkah MSCI tersebut. Hal itu disampaikan dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut Destry, investor tersebut menilai pasar saham Amerika Serikat terlalu berisiko dan pasar Eropa tidak kondusif. Destry juga menilai OJK bertindak cepat, sementara BI berkoordinasi dengan KSSK untuk meredam dampak pengumuman MSCI.
“Kami juga KSSK, kita juga sudah rapat, kita juga bersama-sama berusaha untuk menenangkan para investor, para global investor.”
Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia, dikutip CNBC Indonesia
Pelemahan IHSG sepekan ini bukan yang pertama sepanjang Oktober 2026. Pada 16 Oktober, BEI sempat menghentikan perdagangan sementara setelah indeks turun tajam di awal sesi.
Kemudian, IHSG sempat ditutup di 4.996 pada 19 Oktober 2026, seperti diulas dalam artikel IHSG anjlok 3,64 persen. Sehari kemudian, indeks menguat 5,65 persen ke 5.278,89, seperti tercatat dalam artikel IHSG rebound 5,65 persen.
Posisi IHSG Sepekan Jelang Perdagangan November
Hingga penutupan Jumat, 30 Oktober 2026, IHSG sepekan turun 7,03 persen ke level 5.057,05. Perdagangan Senin, 2 November 2026, menjadi hari pertama IHSG dihitung tanpa 81 saham HSC.








