Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun dan ditutup melemah 1,06% atau 65,82 poin ke level 6.154 pada sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (18/6/2026), tertekan oleh kenaikan BI Rate menjadi 5,75% dan berlanjutnya ketidakpastian pasar global.
Data Perdagangan Sesi Pertama
Berdasarkan data Katadata.co.id, sebanyak 350 saham melemah, 201 saham menguat, dan 162 saham bergerak stagnan pada sesi pertama. Transaksi crossing tercatat masih terjadi di saham-saham tertentu. Harga emas Antam Logam Mulia turut anjlok Rp 30.000 per gram, sementara harga buyback emas Antam ambles Rp 39.000 per gram.
Tiga Faktor Penekan Utama
Analis pasar mengidentifikasi tiga tekanan utama yang memengaruhi IHSG hari ini. Pertama, keputusan RDG Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate 25 bps ke 5,75% menciptakan sentimen negatif terhadap saham-saham sektor properti dan perbankan yang sensitif terhadap suku bunga.
Kedua, tekanan eksternal dari pasar global terus berlangsung. Wall Street ditutup turun pada Rabu (17/6) tertekan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta ekspektasi bahwa The Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga. Bursa Asia pun bergerak melemah secara merata.
Ketiga, investor asing masih membukukan net sell atau aksi jual bersih di pasar saham domestik. Data IHSG sepanjang siklus koreksi kedelapan sejak 2000 mencatat penurunan kumulatif 41,72 persen, dipengaruhi kombinasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan tekanan jual asing.
“Dalam kondisi rupiah sempat mendekati atau menembus level psikologis penting, respons cepat BI dapat mencegah tekanan pasar berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas.”
– Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata
Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Pasar
Pasar juga menantikan pengumuman MSCI Inc. terkait status Indonesia dalam kategori pasar berkembang. MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review sekitar 18 Juni 2026, yang dipandang sebagai salah satu katalis terpenting bagi arah IHSG jangka menengah.
Di tengah tekanan, Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan lebih dari 80 persen emiten masih membukukan laba bersih pada kuartal I-2026, menunjukkan fundamental korporasi yang relatif terjaga.
Rupiah dan Prospek Sore Ini
Nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.796 per dolar AS pukul 11.45 WIB, sedikit lebih kuat dari posisi akhir Mei. Bank Indonesia meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh komitmen bank sentral, imbal hasil yang menarik, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.
Baca juga: Korupsi MBG: Sony Sonjaya Setor 26 Nama ke Kejagung, Mayoritas dari Legislatif








