Israel serang fasilitas militer Iran, melancarkan serangan ke sejumlah target militer di wilayah Iran tengah dan barat pada Senin (8/6/2026), menyusul serangan rudal yang lebih dulu diluncurkan Iran ke Israel utara pada Minggu malam. Eskalasi Iran-Israel ini menjadi yang paling serius sejak kedua negara terikat gencatan senjata rapuh pada 8 April 2026.
Eskalasi Iran-Israel: saling serang militer dan fasilitas petrokimia
Angkatan Udara Israel menyatakan telah menggempur sejumlah sasaran militer di wilayah barat dan tengah Iran. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah meluncurkan serangan rudal terhadap fasilitas petrokimia di Kota Haifa, Israel bagian utara.
IRGC menyebut serangan ke Haifa merupakan respons setimpal atas serangan Israel yang sebelumnya menargetkan fasilitas petrokimia di Bandar-e Mahshahr, Iran. Selain Haifa, sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv, Hadera, dan Caesarea. Sejumlah dentuman terdengar di Tel Aviv, yang menurut militer Israel merupakan dampak pencegatan sistem pertahanan udara.
“Rezim teroris Iran telah melakukan kesalahan besar dengan kembali memilih jalan terorisme.” – Effi Defrin, Juru Bicara Militer Israel
Kronologi: bermula dari serangan Israel ke Beirut
Eskalasi ini bermula ketika Israel melancarkan serangan udara ke kawasan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Minggu sore. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 11 lainnya. Iran menilai serangan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata yang telah berlaku sejak 8 April 2026.
Pada Minggu malam, Iran menembakkan sejumlah rudal ke wilayah Israel utara. IRGC menargetkan pangkalan udara Ramat David dengan rudal balistik dan menyebut tindakan itu sebagai peringatan. Militer Israel mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban jiwa.
Israel kemudian membalas dengan serangan ke fasilitas militer Iran. IRGC kembali merespons dengan menyerang Haifa. Kepala militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menyatakan pasukannya siap memberikan balasan lebih lanjut setelah mendapat instruksi resmi.
“Operasi malam ini adalah peringatan, dan jika agresi diulangi, tanggapannya akan lebih luas dan akan mencakup semua target Amerika-Zionis di wilayah tersebut.” – Pernyataan resmi IRGC, Korps Garda Revolusi Islam Iran
Iran hentikan sementara operasi, Timur Tengah masih rawan eskalasi
Pada Senin (8/6/2026), Iran mengumumkan penghentian sementara operasi militernya. Namun Teheran memperingatkan bahwa serangan lebih besar akan dilakukan apabila Israel kembali menyerang Lebanon Selatan atau wilayah Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Amerika Serikat bertanggung jawab atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.
Ketegangan ini berdampak langsung terhadap pasar keuangan. Wall Street mencatat hari terburuk sejak Oktober 2025, dengan S&P 500 turun 2,6 persen, Dow Jones melemah 1,4 persen, dan Nasdaq anjlok 4,2 persen. Eskalasi di Timur Tengah juga diprediksi memicu kenaikan harga-harga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS






