Parade Budaya HUT KE-415 Kota Singaraja : Ungkap Sejarah, Tampilkan Tradisi

85
Suasana parade budaya yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-415 Kota Singaraja yang dilaksanakan di sepanjang jalan Ngurah Rai Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali pada Sabtu (30/3).

beritaenam.com, Bali – Parade Budaya yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-415 Kota Singaraja berhasil mengungkap sejarah, serta menampilkan sejumlah tradisi yang ada di Kabupaten Buleleng. Penampilan ribuan peserta parade dari sembilan kecamatan itupun berhasil memukau penonton yang memadati area pementasan. yang dilaksanakan di sepanjang jalan Ngurah Rai Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali pada Sabtu (30/3).

Dalam laporannya, Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang mengungkapkan, Parade Budaya yang digelar ini mengambil tema “Singa Praja Tattwa”, yang memiliki makna “Meneladani Keteladanan Ki Barak Panji Sakti”, pada saat kejayaan kerajaannya ketika beliau memerintah.

Oleh sebab itu, banyak fragmentari tentang sejarah yang berkaitan dengan ketangguhan Raja Ki Gusti Panji Sakti dipersembahkan untuk masyarakat Buleleng.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam sambutannya mengatakan, bahwa Parade Budaya ini merupakan suguhan yang khas, menarik, dan unik yang menampilkan kreativitas masyarakat Buleleng.

Menurutnya, sejumlah pementasan seni dan budaya yang ditampilkan oleh pelaku seni itu menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh masyarakat Buleleng yang menyaksikan.

“Kita telah bersepakat untuk bersatu dalam Multikulturalisme, Bersatu Merangkai Warna Nusantara,” tandasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, segala yang dilakukan oleh para pelaku seni tersebut sebagai wujud partisipasi para seniman dan budayawan dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian serta budaya Buleleng.

Bupati Agus juga menyebut Parade Budaya ini sebagai wujud kebersamaan guna membangun masyarakat Buleleng yang bermartabat melalui bidang seni, budaya, dan pariwisata.

“Teruslah berkreasi, dan terus berupaya menggapai prestasi puncak untuk kemajuan seni, budaya, dan pariwisata di Kabupaten Buleleng,” pintanya.

Selain beberapa fragmen yang mengungkap sejarah perjalanan pendiri Puri Singaraja itu, pada parade budaya kali ini juga disuguhkan tradisi yang ada di beberapa desa di Buleleng.

Tradisi “Siat Sambuk” misalnya, tradisi ini biasa dilakukan oleh Krama Desa Negak dan Pemangku dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula.

Tradisi yang dalam bahasa Indonesia ini berarti “Perang Sabut Kelapa” dilaksanakan saat Pengerupukan (sehari sebelum hari Nyepi) di Pura Desa Tejakula.

Duta Kecamatan Gerokgak menampilkan tradisi “Gebug Ende”. Tradisi ini diyakini berasal dari Kabupaten Karangasem yang dibawa oleh penduduk dari Gumi Lahar tersebut ketika bermigrasi ke Buleleng, tepatnya di Kecamatan Gerokgak. Tarian ini merupakan tarian persahabatan dan sering juga digunakan untuk memohon turun hujan.