Rupiah tembus Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026), dipicu kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS yang berlanjut. Sejumlah pengamat memperingatkan rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 apabila tekanan eksternal tidak mereda.
Pelemahan Berlanjut di Tengah Tekanan Global
Rupiah telah melemah sekitar 12 hingga 13 persen sejak pelantikan Presiden Prabowo Subianto, melampaui seluruh mata uang utama ASEAN dalam periode yang sama. Ringgit Malaysia justru menguat 9,38 persen, baht Thailand menguat 4,43 persen, dan dolar Singapura naik 3,48 persen terhadap dolar AS.
Pada perdagangan siang hari ini, kurs jual dolar AS di perbankan tercatat menembus Rp17.595. Cadangan devisa Indonesia juga dilaporkan turun untuk bulan keempat berturut-turut, mencapai level terendah sejak pertengahan 2024, yang semakin memperburuk sentimen pasar.
“Rupiah saat ini diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, lebih dipengaruhi sentimen dan arus modal dibandingkan fundamental ekonomi. Jika menggunakan pendekatan purchasing power parity, nilai tukar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS.”
– Hefrizal Handra, Ekonom Universitas Andalas, dalam keterangan resmi, Mei 2026
Faktor Penyebab: Geopolitik, Dolar Kuat, dan Capital Outflow
Tiga faktor utama menekan rupiah secara bersamaan. Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia kembali melampaui 100 dolar AS per barel, memperburuk posisi Indonesia sebagai negara net importer energi. Kedua, penguatan dolar AS yang bertahan tinggi akibat inflasi AS yang melampaui ekspektasi membuat investor mempertahankan sikap hawkish terhadap kebijakan The Fed. Ketiga, arus keluar modal asing terus menguras pasar obligasi dan saham domestik.
Data perdagangan mencatat IHSG sempat menyentuh level 7.675 pada pertengahan April 2026 sebelum terkoreksi tajam. Pada 8 Mei 2026, IHSG anjlok 2,86 persen dalam satu hari. Meski demikian, pada hari ini IHSG menunjukkan pemulihan dengan potensi menguji level 8.130 seiring aksi beli asing senilai Rp657 miliar.
Respons Pemerintah dan Bank Indonesia
Presiden Prabowo dikabarkan menegur Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo atas kelemahan rupiah yang berkepanjangan, sambil mendukung tujuh langkah stabilisasi yang diumumkan BI. Langkah tersebut mencakup pengetatan aturan valuta asing, penyesuaian likuiditas, dan kajian potensi pemotongan batas pembelian dolar.
Pemerintah juga meluncurkan dana stabilisasi obligasi untuk menopang pasar utang di tengah kenaikan imbal hasil dan penjualan asing. Sejumlah analis menyerukan kenaikan suku bunga acuan BI dari 4,75 persen menjadi 5,0 persen guna menahan arus keluar modal lebih lanjut.
“Ini bukan krisis, tetapi jelas ujian yang serius. Jika tekanan global berlanjut tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel, kondisi ini bisa berkembang menjadi krisis.”
– Hefrizal Handra, Ekonom Universitas Andalas, Mei 2026
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Solid di 5,61 Persen
Di tengah tekanan pasar keuangan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), dengan Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun. Namun investor menilai angka pertumbuhan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan sentimen global yang dominan.
Baca juga: Utang Indonesia Hampir Rp10.000 Triliun, Menkeu Purbaya Tegaskan Masih dalam Batas Aman








