Pendapatan FIFA mencapai sekitar Rp269 triliun atau 15 miliar dolar Amerika Serikat dari Piala Dunia 2026, mencatatkan rekor pemasukan tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen. Angka ini jauh melampaui proyeksi awal yang hanya menargetkan sekitar 11 miliar dolar AS.
Sumber Pendapatan FIFA Rp269 Triliun
Angka tersebut disampaikan Presiden FIFA Gianni Infantino kepada seluruh asosiasi anggota pada Sabtu 18 Juli 2026, sebagaimana dilaporkan The Guardian. Lonjakan pendapatan terjadi di tengah antusiasme tinggi gelaran yang untuk pertama kalinya digelar bersama oleh tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Konteks turnamen dilaporkan pada artikel hasil final Piala Dunia 2026.
FIFA menyebutkan pendapatan terbesar berasal dari penjualan tiket dan paket hospitality atau layanan bagi penonton di stadion. Selain penjualan resmi, transaksi tiket melalui pasar sekunder dengan harga yang jauh lebih tinggi turut menjadi penyumbang besar pemasukan.
Menurut The Guardian, skema penjualan kembali tiket yang dikelola FIFA memungkinkan federasi memperoleh komisi sebesar 15 persen dari pembeli dan 15 persen dari penjual pada setiap transaksi. Skema pemotongan keuntungan ganda ini menjadi sorotan karena dinilai sebagai praktik komersialisasi.
Selain tiket dan hospitality, sumber pendapatan FIFA juga mencakup hak siar televisi, sponsor global, serta lisensi dan merchandise. Penjualan hak siar televisi secara global secara historis merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi federasi. Rincian lengkap dilaporkan The Guardian.
Tiket Trophy Lounge Rp561 Juta per Orang
Menjelang partai final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, FIFA masih menawarkan sejumlah paket VIP dan hospitality. Salah satu paket paling eksklusif, Trophy Lounge, dijual seharga 34.500 dolar AS atau sekitar Rp561 juta per orang.
Harga tersebut menjadikannya salah satu tiket pertandingan sepak bola termahal yang pernah dipasarkan FIFA. Tingginya harga tiket di pasar sekunder pun menjadi salah satu isu yang mengiringi rekor pendapatan tersebut. Kritik atas komersialisasi berlebihan turut mengemuka di kalangan penggemar.
Lonjakan Dua Kali Lipat dari Qatar 2022
Pendapatan FIFA dari siklus 2023 hingga 2026 mengalami lonjakan tajam. Dibandingkan Piala Dunia edisi sebelumnya di Qatar 2022 yang tercatat sekitar 7,5 miliar dolar AS, pemasukan kali ini hampir dua kali lipat. Sebagai perbandingan, Piala Dunia Rusia 2018 menghasilkan sekitar 6,5 miliar dolar AS.
Tren kenaikan ini menunjukkan pertumbuhan signifikan pada seluruh pilar pendapatan komersial FIFA. Dengan pendapatan yang melampaui target, asosiasi-asosiasi anggota FIFA diperkirakan akan menerima tambahan alokasi dana. Namun, hingga kini FIFA belum menetapkan mekanisme pembagian pendapatan tersebut secara final. Berita olahraga lain di kanal Olahraga BeritaEnam.
Rekor Pendapatan FIFA di Tengah Kontroversi
Keberhasilan mencatat pemasukan fantastis ini dinilai semakin memperkuat posisi Gianni Infantino. Ia disebut telah memperoleh dukungan lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA untuk kembali maju dalam pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Meski demikian, rekor finansial ini juga dibayangi sejumlah kontroversi. Salah satu yang mencuat adalah pencabutan kartu merah penyerang Timnas Amerika Serikat Folarin Balogun pada laga 16 besar melawan Paraguay. Keputusan itu memicu kritik karena FIFA dianggap mengikuti tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
FIFA kemudian menjelaskan bahwa pencabutan hukuman diputuskan secara independen oleh Komite Disiplin, meski sebagian asosiasi sepak bola Eropa dikabarkan masih mempertanyakan langkah tersebut. Di tengah polemik itu, pendapatan FIFA Rp269 triliun tetap menjadi capaian finansial yang memecahkan rekor.
Dampak bagi Ekosistem Sepak Bola Global
Rekor pendapatan FIFA berpotensi meningkatkan alokasi dana pengembangan sepak bola bagi asosiasi anggota di seluruh dunia. Program pembinaan usia dini, infrastruktur, dan kompetisi lokal umumnya menjadi penerima manfaat utama dari surplus keuangan federasi.
Sejumlah pengamat menilai transparansi pengelolaan dan distribusi dana menjadi kunci agar rekor finansial ini benar-benar berdampak pada pertumbuhan sepak bola global. Publik menanti keputusan FIFA soal skema pembagian pendapatan yang adil bagi seluruh negara anggota.








