Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memperingatkan nilai tukar rupiah berpotensi melemah ke Rp22.000 hingga Rp25.000 per dolar AS pada semester kedua 2026. Prediksi itu disampaikan dalam sebuah podcast yang viral di media sosial pada pertengahan Mei 2026 dan bersamaan dengan ancaman fenomena El Nino yang diprakirakan melanda Indonesia pada Juli-Agustus 2026. Bank Indonesia menyatakan pandangan berbeda, meyakini rupiah akan kembali menguat pada periode yang sama.
Prediksi Ekonom: Rupiah Bisa Tembus Rp22.000
Prof. Ferry Latuhihin, ekonom dengan rekam jejak prediksi yang diklaim akurat, menyebut sejumlah faktor struktural sebagai pemicu pelemahan rupiah. Pertama, harga minyak mentah global yang sudah melampaui 100 dolar AS per barel. Jika menyentuh 120 dolar AS, kebutuhan impor minyak Indonesia akan mendorong permintaan dolar semakin besar. Kedua, defisit fiskal yang pada kuartal pertama 2026 saja sudah mencapai sekitar Rp240 triliun.
“Ramalan saya bisa 22.000 sampai 25.000 di semester kedua.”
– Prof. Ferry Latuhihin, Ekonom, dikutip dari podcast viral (Mei 2026)
Ferry juga menyoroti ancaman badai pemutusan hubungan kerja yang disebut sendiri oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang. Tekanan bisnis dari kurs dolar yang tinggi, kenaikan royalti pertambangan, serta pemotongan komisi ojek online menjadi faktor penekan daya tahan pelaku usaha.
Bank Indonesia: Rupiah Menguat Juli-Agustus
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempunyai pandangan yang berbeda. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senin (18/5/2026), Perry menyatakan pelemahan rupiah pada periode April, Mei, Juni adalah pola musiman yang berulang setiap tahun. Faktor pemicunya adalah musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran utang luar negeri.
“Tapi yang kita percaya kan average tahunan. Dan kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, May, Juni. Tapi bulan Juli, Agustus akan menguat.”
– Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, Rapat Kerja Komisi XI DPR RI (18/5/2026)
Perry memproyeksikan nilai tukar rupiah secara rata-rata tahun berjalan masih akan bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800. Meski demikian, ia mengakui rata-rata nilai tukar rupiah secara year-to-date per Mei 2026 sudah berada di Rp16.900, melebihi asumsi APBN Rp16.500. BI menyebut telah menerapkan tujuh langkah untuk mengembalikan kurs ke kisaran target.
El Nino Juli-Agustus: Ancaman Berlapis bagi Pangan
Di tengah tekanan nilai tukar, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperingatkan potensi El Nino moderat melanda Indonesia pada periode Juli-Agustus-September 2026. Menurut BMKG, Indonesia saat ini masih dalam kondisi netral, namun mulai memasuki El Nino lemah pada Mei-Juni-Juli dan berkembang menjadi moderat pada Juli-Agustus-September sebelum melemah kembali.
Lembaga riset cuaca global National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyebut peluang terjadinya El Nino ekstrem pada Juni-Agustus 2026 mencapai 62 persen. Dosen Manajemen Bencana Universitas Airlangga Hijrah Saputra menggambarkan dampak El Nino ekstrem seperti demam 40 derajat dibandingkan El Nino biasa yang setara demam 38 derajat.
“El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih.”
– Hijrah Saputra, Dosen Manajemen Bencana Universitas Airlangga (28/4/2026)
Dampak yang diprakirakan BMKG meliputi kemarau panjang, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, krisis air bersih, serta gangguan sektor pertanian. Wilayah yang diperkirakan mencapai puncak kemarau paling parah pada Agustus mencakup sebagian besar Jawa, Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.
Irisan Risiko: Kurs Lemah dan Impor Pangan Berbiaya Tinggi
Perpaduan pelemahan rupiah dan El Nino menciptakan tekanan ganda pada ketahanan pangan nasional. Indonesia masih bergantung pada impor untuk komoditas kedelai, gula, beras, jagung, dan gandum, seluruhnya dibayar dalam dolar. Jika kurs melemah bersamaan dengan kenaikan harga pangan global akibat kekeringan, daya beli masyarakat terancam tertekan dari dua arah sekaligus.
BMKG dan para ahli pertanian mendorong pemerintah serta petani untuk segera melakukan mitigasi, termasuk pemilihan varietas tanaman tahan kekeringan, pemetaan sumber air cadangan, dan penguatan cadangan pangan di daerah rawan. Pemerintah belum mengeluarkan kebijakan resmi terkait antisipasi terpadu dua ancaman ini per 20 Mei 2026.
Baca juga: Viral! Sopir MBG di Depok Ditangkap karena Nyambi Jadi Kurir Sabu







